Percepatan Industrialisasi Dorong Indonesia Semakin Mandiri di Sektor Manufaktur

JAKARTA – Pemerintah terus mempercepat langkah industrialisasi nasional sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian sektor manufaktur dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Arah kebijakan tersebut didukung melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga riset sehingga industri nasional mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan bersaing di pasar global.

Komitmen mempercepat industrialisasi semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya membangun kemampuan produksi nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk impor. Pengembangan industri strategis, mulai dari otomotif, elektronika, hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam, dipandang sebagai langkah penting untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa arahan Presiden selaras dengan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) yang disiapkan Kementerian Perindustrian untuk memperkuat struktur industri manufaktur sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

“Pidato Bapak Presiden menjadi penegasan bahwa industrialisasi adalah jalan utama untuk menuju kemandirian ekonomi nasional. Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen, tetapi harus menjadi negara produsen yang memiliki kemampuan manufaktur kuat dan berdaya saing global,” tegas Agus Gumiwang Kartasasmita.

Penguatan sektor manufaktur dinilai memiliki landasan yang kuat karena Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah serta kapasitas industri yang terus berkembang. Pengembangan hilirisasi berbagai komoditas strategis, termasuk nikel, diharapkan mampu menghasilkan beragam produk turunan bernilai tambah, mulai dari komponen otomotif hingga baterai kendaraan listrik. Langkah tersebut juga memperkuat keterkaitan industri dari sektor hulu hingga hilir sehingga menciptakan ekosistem manufaktur yang semakin efisien dan kompetitif.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah mengarahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk memperkuat pembangunan SDM, riset, dan industrialisasi sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Melalui forum KSTI ini, pemerintah mengajak perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri untuk memperkuat kolaborasi dalam menghasilkan kebijakan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Penguatan kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai kebijakan, termasuk penajaman program beasiswa yang difokuskan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta sektor-sektor industri strategis seperti manufaktur maju, semikonduktor, kecerdasan buatan, energi, pangan, maritim, digitalisasi, dan hilirisasi. Ketersediaan talenta unggul diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus mempercepat transformasi ekonomi berbasis teknologi.

“Untuk mencapai target tersebut, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus didukung oleh pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, serta tumbuhnya wirausaha dan perusahaan rintisan berbasis inovasi,” kata Purbaya Yudhi Sadewa.

Sinergi antara percepatan industrialisasi, penguatan kualitas SDM, pengembangan riset, serta dukungan kebijakan fiskal diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara manufaktur yang mandiri dan berdaya saing. Dengan fondasi tersebut, sektor industri nasional berpeluang memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, serta mempercepat terwujudnya transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

More From Author

Pemerintah Pastikan Taruna Akmil Tidak Mengajar di Kelas, Hanya Dampingi Kemandirian Siswa Sekolah Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *